Hukum Duduk Tawarruk

0
134

Pertanyaan: Tentang duduk tawarruk (duduk pada tasyahhud akhir) di dalam sholat bagi seorang makmum — jika hal tersebut akan mempersempit orang yang di sebelahnya–, manakah yang lebih utama: bertawarruk atau meninggalkannya? Karena banyak orang yang tidak mampu ber-tawarruk kecuali jika dia bersandar pada orang yang di sebelahnya.
.
Jawaban: Segala Puji hanya milik Allah Ta’ala.
Duduk tawarruk di dalam sholat sudah diketahui caranya, yaitu anda menegakkan kaki yang kanan dan mengeluarkan kaki kiri dari sisi kanan. Duduk tawarruk adalah anda meletakkan pinggangmu di tanah.
.
Dan kondisi ini membuat seseorang harus bergeser sedikit. Dan bisa jadi shof tersebut sempit dan manusia berdesak-desakan di dalam shof, sehingga dia mengganggu orang yang ada di sebelahnya.
.
Maka menurut kami, disini terkumpul dua perkara:
1️⃣ Mengerjakan sunnah, dan
2️⃣ Mencegah dari mengganggu seorang muslim
.
Lalu manakah yang lebih utama: Mengerjakan sunnah atah mencegah gangguan?
Yang lebih utama adalah MENAHAN GANGGUAN, karena mengganggu seorang muslim bukanlah perkara yang REMEH, walaupun dengan ucapan. Apalagi dengan perbuatan yang terjadi di dalam sholat dan MERUSAK KONSENTRASI shalat padanya.
.
Gangguan terhadap seorang mukmin bisa terjadi dengan ucapan atau perbuatan. Allah ‘Azza wa Jala berfirman: “Dan orang-orang yang MENGGANGGU kaum mukminin dan mukminat dengan TANPA ADA kesalahan yang mereka lakukan, maka sungguh dia telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata.” (Q.S. al-Ahzaab: 58)
.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia MENGGANGGU tetangganya.” Dan suatu saat Beliau ﷺ keluar menuju para shahabatnya sedang mereka di masjid melaksanakan shalat dan mengeraskan bacaan, maka Beliau ﷺ bersabda: “Setiap kalian sedang bermunajat (berbicara dengan suara lembut) dengan Robb-nya, maka sungguh janganlah sebagian kalian MENGGANGGU sebagian yang lain ketika membaca.”
.
Dimana letak gangguannya?! Gangguan tersebut adalah jika Anda MENGERASKAN BACAAN maka menimbulkan suara BERISIK terhadap orang-orang yang ada di sekitar Anda, sehingga Anda mengganggu mereka.
.
Maka kaidah ini perhatikanlah, yaitu: “MENINGGALKAN SUATU SUNNAH UNTUK MENAHAN GANGGUAN ITU LEBIH BAIK DARIPADA MENGERJAKAN SUNNAH NAMUN MENGGANGGU ORANG LAIN.”
.
Maka orang yang duduk tawarruk ini, jika tawarruk-nya itu mengganggu orang di sebelahnya maka dia JANGAN ber-tawarruk.
.
Dan jika Allah mengetahui niatnya bahwasanya kalau tidak seperti ini keadaannya, maka tentu dia akan ber-tawarruk, maka sesungguhnya Allah Ta’ala tetap akan memberi pahala kepadanya, karena ia menjadi seperti orang yang dikatakan oleh Rosulullah ﷺ : “Siapa yang sakit atau sedang safar, maka ditulis baginya apa yang biasa ia kerjakan tatkala sehat dan mukim (tidak sedang safar).”
.
Sumber: Liqo`atul Baabil Maftuh: 2/38
Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah